Rabu, 16 Oktober 2013

Bisnis Aneh

Diantara kita mungkin pernah mendengar atau bahkan ditawari bisnis dengan modal kecil tapi mendapat keuntungan yang sangat besar. Pekerjaannya mudah, penghasilannya dobel. Pokoknya duit akan mengalir dan mengalir siang malam. Pekerjaan kita cukup membeli produk tertentu dan mencari member sebanyak-banyaknya untuk menjadi downline. Bisnis ini biasanya disebut bisnis MLM oleh masyarakat. Entah MLM murni entah hanya kedok, bagi masyarakat awam sulit membedakannya termasuk saya sendiri.

Dari sekian banyak orang yang menawari bisnis ini kepada saya, hampir semuanya memiliki kesamaan. Sama-sama modalnya kecil, penghasilan dobel (dari penjualan dan pasif income), dan bonus materi yang wah..!! Kita pun mulai bertanya-tanya bagaimana hal itu bisa terjadi..??? Si Penawar pun mulai menjelaskan begini dan begitu..tapi saya dapat menangkap dan menganalisa beberapa hal yaitu:

1. Misalkan jika belanja Rp. 200.000 dapat bonus 20.000,
Sebenarnya harga jual barang yang kita beli seharga Rp.180.000 atau kurang, dan uang Rp.20.000 itu kembaliannya tapi disebut bonus.
2. Dapat pasif income dari downline, semakin banyak downline semakin besar pasif income-nya.
Dari mana pasif income itu berasal.?? tentu saja dari uang pendaftaran para member downline dan uang kembalian yang disebut bonus itu. 


Singkatnya, uang pendaftaran + uang kembalian yang disebut bonus itu dibagi-bagi dari downline ke upline begitu seterusnya. Semakin banyak downline semakin banyak uang yang dibagi. Cara seperti ini memang bisa cepat mendatangkan kekayaan. Tapi tanyakan ke hati nurani anda apakah cara ini patut..? Kalau saya ikut fatwa MUI saja yang mengharamkan bisnis dengan cara seperti itu.

Memang ada  yang bilang MLM murni itu ada. Bisnisnya tidak dengan sistem money game yang sudah dijelaskan di atas. Tapi saya hanya ingin mengingatkan yaitu seorang member harus (dengan iming-iming bonus tentunya)  membeli barang dari perusahaan MLM yang dia ikuti dan juga bekerja mencari member lain untuk menjadi downline. Nah...sebenarnya kita sedang berbisnis atau sedang bekerja kepada orang lain..??? Kita sebenarnya pengusaha atau pekerja..??? 

Yang jelas...dalam berdagang kita tentunya menjual barang dengan harga jual yang menguntungkan minimal sekira-kiranya 10 %. dari modal yang kita keluarkan. Seandainya ada uang yang perlu dibagi-bagi, tentu yang dibagi adalah keuntungannya alias harga jualnya ditambah, dari 10 % menjadi 20 %. Hal ini berarti dalam suatu perusahaan MLM pastilah ada yang menjadi pemodal, dan setiap modal tidak akan pernah dibagikan kepada pembeli baik itu bonus maupun sumbangan (jika modal kesedot pemodal bisa bangkrut).

Oleh karena itu wajar saja jika produk-produk yang ditawarkan MLM harganya cukup mahal. Bahkan katanya lebih mahal dari harga wajar. Hal itu terjadi karena memang harga jualnya ditambah. Keuntungannya bukan hanya untuk si pemodal tapi juga untuk bonus para member. Jika produknya mayoritas dibeli oleh member, itu artinya member bukan seorang pengusaha tapi pekerja sekaligus pembeli setia produk MLMnya sendiri. WOW.....!!!!!
Baca juga Kisah Inspiratif Pengusaha Sukses

Minggu, 13 Oktober 2013

Sedekah Di Masa Sulit, Sedekah Yang Paling Ikhlas


Suatu malam minggu saya bertemu dengan teman lama. Kami pun mengobrol dan berbagi cerita. Diantara cerita yang kami bagi, ada cerita yang menurut saya mesti dibagikan ke orang lain sebagai kisah inspirasi kehidupan. Ceritanya begini;

Teman saya sejak lulus SMP menjadi buruh bangunan. Bukan karena cita-cita tapi karena keadaan. Bahkan sampai punya anak istri pekerjaannya masih buruh bangunan. Resiko menjadi buruh bangunan bukan hanya pekerjaannya yang berat dan cukup berbahaya tetapi juga resiko pekerjaan yang tidak menentu. Apalagi teman saya bukan termasuk tenaga kerja ahli. Apabila proyek bangunan telah selesai tapi proyek baru belum dapat, itu artinya mesti kerja serabutan.

Suatu ketika kondisi keuangannya mengalami krisis. Pekerjaan belum dapat uang sudah habis. Sudah bisa ditebak, teman saya pun pergi kesana kemari untuk mencari uang pinjaman. Tapi ternyata tidak mendapat hasil. Teman saya sadar dengan kondisinya, seandainya ada orang yang tidak memberi pinjaman karena tidak percaya dia sanggup membayar.

Dalam keadaan kemelut (kemana harus mencari isi perut), teman saya ingat kalau dia punya teman sesama buruh bangunan yang punya utang Rp.100.000. Teman saya pun pergi menemui temannya untuk menagih utang. Akan tetapi kondisi temannya tidak jauh berbeda. Temannya berterus terang kalau uang Rp. 100.000, sebenarnya ada tapi untuk berobat anaknya yang sedang sakit panas. Teman saya pun melihat kondisi anak temannya yang masih balita itu terbaring lemah sambil dikompres.

Teman saya pun bingung. Jika uang itu diambil bagaimana dengan anak temannya yang sakit..?? tapi jika tidak diambil  bagaimana dengan anak istrinya di rumah..?? Setelah berpikir bolak-balik makin lama makin pelik. Akhirnya teman saya memutuskan untuk tidak mengambil uang itu, bahkan disedekahkan untuk berobat anak temannya. Sedangkan anak istrinya di rumah dipasrahkan kepada Tuhan. Setelah bercakap-cakap sebentar teman saya pun pulang karena waktu sudah cukup malam.

Sesampainya di rumah, teman saya tidak banyak bicara karena tidak ada hal yang perlu dibicarakan. Saya juga tidak bertanya bagaimana reaksi anak istrinya dalam keadaan itu, karena  saya anggap tidak etis. Cukup mereka saja yang tahu bagaimana keadaan malam itu.

Keesokan paginya (kata teman saya), datang temannya yang lain pagi-pagi sekali menawari pekerjaan untuk menjadi satpam. Tentu saja teman saya bersedia dan dia pun berterus terang kalau hari ini dia tidak punya uang. Jangankan untuk ongkos testing, interview, beli seragam dll, untuk bekal hari ini saja tidak ada. Tapi ternyata tanpa susah payah temannya memberikan pinjaman Rp.500.000,-. Tentu saja teman saya sangat bersyukur.

Semenjak kejadian itu entah datang ari mana (kata dia), hadir perasaan bersalah karena sering minum minuman keras untuk menghilangkan rasa pegal linu setelah kerja berat. Hadir juga perasaan bersalah karena sering meninggalkan solat. Tapi dimulai hari itu juga teman saya tidak lagi berani meninggalkan solat dan tidak lagi minum minuman keras. Baginya...pertolongan Allah SWT pada waktu itu sangat luar biasa.

Nah pemirsa..kisah teman saya memang sangat sederhana. Hanya sedekah Rp.100.000 dapat pinjaman Rp.500.000 plus pekerjaan menjadi satpam. Tapi dibalik kesederhanaan kisah itu ternyata ada kemiripan dengan kisah sepuluh buah delima Saidina Ali ra. Hanya berbeda pada obyek tapi intinya sama-sama kisah bersedekah di masa sulit.

Teman saya belum tahu kisah sepuluh buah delima Saidina Ali ra. tapi dia sudah mengamalkannya. Saya sendiri belum...bagaimana dengan anda..? Semoga kisah ini menginspirasi pembaca untuk tetap bersedekah meski di masa sulit karena sedekah ini sedekah yang paling ikhlas. Paling tidak sekali dalam seumur hidup. Bagaimana faedah sedekah yang ikhlas?? tentu para ulama dan ustadz sudah berkali-kali menjelaskannya. Tinggal kita mengamalkan saja. 

Baca juga Kisah Inspiratif Pengusaha Sukses

Berkaca Kepada Dunia Nyata Bukan Dunia Khayalan

Banyak "filosofer" begitu saya menyebutnya, sering membanding-bandingkan kehidupan ini (nyata) dengan cerita khayalan. Entah itu tokoh mau pun suatu cerita kehidupan. Tokoh khayalan yang begitu mengagumkan berikut ceritanya yang luar biasa memang bisa menginspirasi banyak orang, akan tetapi khayalan tetaplah khayalan.

Di dunia ini banyak tokoh-tokoh yang benar-benar hidup dalam kenyataan berikut cerita kehidupannya. Tokoh-tokoh inilah yang seharusnya menjadi inspirasi karena mereka hidup seperti kita di dunia nyata sehingga kesuksesan mereka adalah kenyataan. Kita juga bisa mencontoh hal-hal positif dari mereka sebagai referensi  kehidupan. Dan sebagai manusia biasa tentu mereka juga memiliki kekurangan sebagai mana halnya kita. Tapi itulah dunia nyata...! bagaimana kita mengisi kekurangan kita dengan mencontoh kelebihan orang lain.

Sebagai contoh kecil yaitu Eiji Toyoda yang pergi ke Amerika Serikat untuk menjadi buruh pabrik di perusahaan Ford Motor Co. padahal beliau anak bos. Beliau menjadi buruh untuk mencari tahu bagaimana caranya membuat mobil. Sekembalinya dari Amerika Serikat setelah bertahun-tahun bekerja, EijiToyoda merubah pabrik mesin jahit ayahnya menjadi pabrik mobil. Kenyataan yang dihadapinya pada waktu itu sangatlah berat. Bukan hanya pada masalah produksi dan penjualan tapi juga terhadap perang. Betul..!! pada waktu itu Jepang sedang berperang dengan tentara sekutu. Banyak kota-kota penting di Jepang yang dihujani bom. Bahkan gedung tempat peleburan besi milik Toyoda pun luluh lantak dihantam bom.



Setelah perang berakhir kenyataan masih belum lebih baik bagi Toyoda. Kota strategis di Jepang sudah hancur oleh bom atom (Hiroshima dan Nagasaki), BBM langka, bahan baku langka, apalagi sebagai pihak yang kalah, Jepang bukan hanya kehilangan orang tapi juga uang. Tak sedikit harta kekayaan keluarga yang disita oleh pemerintah Jepang untuk "recovery". Tapi apakah Eiji Toyada menyerah.?? jawabannya tidak.!!

Eiji Toyoda terus berusaha untuk membangun dan mengembangkan Toyoda Motor C. mulai dari masalah teknis, penjualan dan keuangan. Kerja kerasnya pun kemudian membuahkan hasil. Nama Toyoda kemudian diganti menjadi Toyota Motor Co. Sekarang siapa yang tak kenal dengan mobil Toyota..? bukan hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia tahu Toyota. Apakah ini dongeng..?? tidak..ini bukan dongeng..silahkan anda pergi ke jalan raya dan hitung mobil Toyota yang anda lihat.

Nah...orang seperti inilah yang semestinya menjadi contoh pengusaha-pengusaha muda Indonesia. Meraih mimpi dengan menghadapi kenyataan hidup. Bukan berbisnis tanpa modal, tanpa kerja keras, dengan hasil yang melimpah karena itu omong kosong. Kecuali kalau kita memang orang yang benar-benar beruntung.
Baca juga Kisah Pengusaha Sukses