Sedekah Di Saat Sulit, Sedekah Yang Paling Ikhlas
Suatu malam minggu saya bertemu dengan teman lama. Kami pun mengobrol dan berbagi cerita. Diantara cerita yang kami bagi, ada cerita yang menurut saya mesti dibagikan ke orang lain sebagai kisah inspirasi kehidupan. Ceritanya begini;
Teman saya sejak lulus SMP menjadi buruh bangunan. Bukan karena cita-cita tapi karena keadaan. Bahkan sampai punya anak istri pekerjaannya masih buruh bangunan. Resiko menjadi buruh bangunan bukan hanya pekerjaannya yang berat dan cukup berbahaya tetapi juga resiko pekerjaan yang tidak menentu. Apalagi teman saya bukan termasuk tenaga kerja ahli. Apabila proyek bangunan telah selesai tapi proyek baru belum dapat, itu artinya mesti kerja serabutan.
Suatu ketika kondisi keuangannya mengalami krisis. Pekerjaan belum dapat uang sudah habis. Sudah bisa ditebak, teman saya pun pergi kesana kemari untuk mencari uang pinjaman. Tapi ternyata tidak mendapat hasil. Teman saya sadar dengan kondisinya, seandainya ada orang yang tidak memberi pinjaman karena tidak percaya dia sanggup membayar.
Dalam keadaan kemelut (kemana harus mencari isi perut), teman saya ingat kalau dia punya teman sesama buruh bangunan yang punya utang Rp.100.000. Teman saya pun pergi menemui temannya untuk menagih utang. Akan tetapi kondisi temannya tidak jauh berbeda. Temannya berterus terang kalau uang Rp. 100.000, sebenarnya ada tapi untuk berobat anaknya yang sedang sakit panas. Teman saya pun melihat kondisi anak temannya yang masih balita itu terbaring lemah sambil dikompres.
Teman saya pun bingung. Jika uang itu diambil bagaimana dengan anak temannya yang sakit..?? tapi jika tidak diambil bagaimana dengan anak istrinya di rumah..?? Setelah berpikir bolak-balik makin lama makin pelik. Akhirnya teman saya memutuskan untuk tidak mengambil uang itu, bahkan disedekahkan untuk berobat anak temannya. Sedangkan anak istrinya di rumah dipasrahkan kepada Tuhan. Setelah bercakap-cakap sebentar teman saya pun pulang karena waktu sudah cukup malam.
Sesampainya di rumah, teman saya tidak banyak bicara karena tidak ada hal yang perlu dibicarakan. Saya juga tidak bertanya bagaimana reaksi anak istrinya dalam keadaan itu, karena saya anggap tidak etis. Cukup mereka saja yang tahu bagaimana keadaan malam itu.
Keesokan paginya (kata teman saya), datang temannya yang lain pagi-pagi sekali menawari pekerjaan untuk menjadi satpam. Tentu saja teman saya bersedia dan dia pun berterus terang kalau hari ini dia tidak punya uang. Jangankan untuk ongkos testing, interview, beli seragam dll, untuk bekal hari ini saja tidak ada. Tapi ternyata tanpa susah payah temannya memberikan pinjaman Rp.500.000,-. Tentu saja teman saya sangat bersyukur.
Semenjak kejadian itu entah datang ari mana (kata dia), hadir perasaan bersalah karena sering minum minuman keras untuk menghilangkan rasa pegal linu setelah kerja berat. Hadir juga perasaan bersalah karena sering meninggalkan solat. Tapi dimulai hari itu juga teman saya tidak lagi berani meninggalkan solat dan tidak lagi minum minuman keras. Baginya...pertolongan Allah SWT pada waktu itu sangat luar biasa.
Nah pemirsa..kisah teman saya memang sangat sederhana. Hanya sedekah Rp.100.000 dapat pinjaman Rp.500.000 plus pekerjaan menjadi satpam. Tapi dibalik kesederhanaan kisah itu ternyata ada kemiripan dengan kisah sepuluh buah delima Saidina Ali ra. Hanya berbeda pada obyek tapi intinya sama-sama kisah bersedekah di masa sulit.
Teman saya belum tahu kisah sepuluh buah delima Saidina Ali ra. tapi dia sudah mengamalkannya. Saya sendiri belum...bagaimana dengan anda..? Semoga kisah ini menginspirasi pembaca untuk tetap bersedekah meski di masa sulit karena sedekah ini sedekah yang paling ikhlas. Paling tidak sekali dalam seumur hidup. Bagaimana faedah sedekah yang ikhlas?? tentu para ulama dan ustadz sudah berkali-kali menjelaskannya. Tinggal kita mengamalkan saja.
Baca Juga Kisah Pengusaha Sukses
Baca Juga Kisah Pengusaha Sukses

Tidak ada komentar:
Posting Komentar