Berkaca Pada Dunia Nyata Bukan Khayalan
Di dunia ini banyak tokoh-tokoh yang benar-benar hidup dalam kenyataan berikut cerita kehidupannya. Tokoh-tokoh inilah yang seharusnya menjadi inspirasi karena mereka hidup seperti kita di dunia nyata sehingga kesuksesan mereka adalah kenyataan. Kita juga bisa mencontoh hal-hal positif dari mereka sebagai referensi kehidupan. Dan sebagai manusia biasa tentu mereka juga memiliki kekurangan sebagai mana halnya kita. Tapi itulah dunia nyata...! bagaimana kita mengisi kekurangan kita dengan mencontoh kelebihan orang lain.
Sebagai contoh kecil yaitu Eiji Toyoda yang pergi ke Amerika Serikat untuk menjadi buruh pabrik di perusahaan Ford Motor Co. padahal beliau anak bos. Beliau menjadi buruh untuk mencari tahu bagaimana caranya membuat mobil. Sekembalinya dari Amerika Serikat setelah bertahun-tahun bekerja, EijiToyoda merubah pabrik mesin jahit ayahnya menjadi pabrik mobil. Kenyataan yang dihadapinya pada waktu itu sangatlah berat. Bukan hanya pada masalah produksi dan penjualan tapi juga terhadap perang. Betul..!! pada waktu itu Jepang sedang berperang dengan tentara sekutu. Banyak kota-kota penting di Jepang yang dihujani bom. Bahkan gedung tempat peleburan besi milik Toyoda pun luluh lantak dihantam bom.
Setelah perang berakhir kenyataan masih belum lebih baik bagi Toyoda. Kota strategis di Jepang sudah hancur oleh bom atom (Hiroshima dan Nagasaki), BBM langka, bahan baku langka, apalagi sebagai pihak yang kalah, Jepang bukan hanya kehilangan orang tapi juga uang. Tak sedikit harta kekayaan keluarga yang disita oleh pemerintah Jepang untuk "recovery". Tapi apakah Eiji Toyada menyerah.?? jawabannya tidak.!!
Eiji Toyoda terus berusaha untuk membangun dan mengembangkan Toyoda Motor C. mulai dari masalah teknis, penjualan dan keuangan. Kerja kerasnya pun kemudian membuahkan hasil. Nama Toyoda kemudian diganti menjadi Toyota Motor Co. Sekarang siapa yang tak kenal dengan mobil Toyota..? bukan hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia tahu Toyota. Apakah ini dongeng..?? tidak..ini bukan dongeng..silahkan anda pergi ke jalan raya dan hitung mobil Toyota yang anda lihat.
Nah...orang seperti inilah yang semestinya menjadi contoh pengusaha-pengusaha muda Indonesia. Meraih mimpi dengan menghadapi kenyataan hidup. Bukan berbisnis tanpa modal, tanpa kerja keras, dengan hasil yang melimpah karena itu omong kosong. Kecuali kalau anda memang orang yang benar-benar beruntung bisa menipu orang kaya.
Diantara kita mungkin pernah mendengar atau bahkan ditawari bisnis dengan modal kecil tapi mendapat keuntungan yang sangat besar. Pekerjaannya mudah, penghasilannya dobel. Pokoknya duit akan mengalir dan mengalir siang malam. Pekerjaan kita cukup membeli produk tertentu dan mencari member sebanyak-banyaknya untuk menjadi downline. Bisnis ini biasanya disebut bisnis MLM oleh masyarakat. Entah MLM murni entah hanya kedok, bagi masyarakat awam sulit membedakannya termasuk saya sendiri.
Dari sekian banyak orang yang menawari bisnis ini kepada saya, hampir semuanya memiliki kesamaan. Sama-sama modalnya kecil, penghasilan dobel (dari penjualan dan pasif income), dan bonus materi yang wah..!! Kita pun mulai bertanya-tanya bagaimana hal itu bisa terjadi..??? Si Penawar pun mulai menjelaskan begini dan begitu..tapi saya dapat menangkap dan menganalisa beberapa hal yaitu:
1. Misalkan jika belanja Rp. 200.000 dapat bonus 20.000,
Sebenarnya harga jual barang yang kita beli seharga Rp.180.000 atau kurang, dan uang Rp.20.000 itu kembaliannya tapi disebut bonus.
2. Dapat pasif income dari downline, semakin banyak downline semakin besar pasif income-nya.
Dari mana pasif income itu berasal.?? tentu saja dari uang pendaftaran para member downline dan uang kembalian yang disebut bonus itu.
Singkatnya, uang pendaftaran + uang kembalian yang disebut bonus itu dibagi-bagi dari downline ke upline begitu seterusnya. Semakin banyak downline semakin banyak uang yang dibagi. Cara seperti ini memang bisa cepat mendatangkan kekayaan. Tapi tanyakan ke hati nurani anda apakah cara ini patut..? Kalau saya ikut fatwa MUI saja yang mengharamkan bisnis dengan cara seperti itu.
Memang ada yang bilang MLM murni itu ada. Bisnisnya tidak dengan sistem money game yang sudah dijelaskan di atas. Tapi saya hanya ingin mengingatkan yaitu seorang member harus (dengan iming-iming bonus tentunya) membeli barang dari perusahaan MLM yang dia ikuti dan juga bekerja mencari member lain untuk menjadi downline. Nah...sebenarnya kita sedang berbisnis atau sedang bekerja kepada orang lain..??? Kita sebenarnya pengusaha atau pekerja..???
Yang jelas...dalam berdagang kita tentunya menjual barang dengan harga jual yang menguntungkan minimal sekira-kiranya 10 %. dari modal yang kita keluarkan. Seandainya ada uang yang perlu dibagi-bagi, tentu yang dibagi adalah keuntungannya alias harga jualnya ditambah, dari 10 % menjadi 20 %. Hal ini berarti dalam suatu perusahaan MLM pastilah ada yang menjadi pemodal, dan setiap modal tidak akan pernah dibagikan kepada pembeli baik itu bonus maupun sumbangan (jika modal kesedot pemodal bisa bangkrut).
Oleh karena itu wajar saja jika produk-produk yang ditawarkan MLM harganya cukup mahal. Bahkan katanya lebih mahal dari harga wajar. Hal itu terjadi karena memang harga jualnya ditambah. Keuntungannya bukan hanya untuk si pemodal tapi juga untuk bonus para member. Jika produknya mayoritas dibeli oleh member, itu artinya member bukan seorang pengusaha tapi pekerja sekaligus pembeli setia produk MLMnya sendiri. WOW.....!!!!!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar